Rabu, 06 Januari 2010

Proyek Perbaikan Jaringan Komunikasi Ibu Kota Jakarta

 MANAJEMEN 
PROYEK DAN RISIKO
Proyek Perbaikan Jaringan Komunikasi Ibu Kota Jakarta


 

Tujuan:
Memperluas jaringan telepon ke seluruh wilayan Indonesia sembari merencanakan sistem pemeliharaannya untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumen sekaligus memperluas dan memperkuat jaringan telepon. Sebagai alat pemersatu, telekomunikasi adalah hal yang sangat teramat penting bagi suatu negara yang mempunyai banyak pulau, keragaman suku bangsa, bahasa, dan agama seperti Indonesia.


Garis Besar Proyek:
PERUMTEL adalah perusahaan telekomunikasi milik negara yang mengurus hal-hal mengenai telpon di Indonesia.

Dengan adanya repelita (rencana pembangunan lima tahun) yang dimulai dari tahun 1969, kondisi ekonomi dan politik Indonesia menjadi stabil, dan telekomunikasi menjadi hal yang sangat teramat penting bagi suatu negara yang memiliki banyak pulau seperti Indonesia. Dalam rangka membantu pengembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia, pemerintah Jepang memberikan bantuan pinjaman uang yang digunakan untuk memperluas jaringan telekomunikasi di Indonesia dalam bentuk bermacam-macam metoda telekomunikasi seperti jaringan gelombang pendek, jaringan microwave, dan kabel bawah laut.

Meskipun demikian, prosentase pemakaian telpon di Indonesia masih di bawah prosentase pemakaian telpon di negara-negara ASEAN. Pada bulan Desember 1988, prosentase pemakaian telpon di Indonesia tercatat sebagai 0.47 pesawat telepon per 100 orang. Pada saat itu, sebagian besar pemakai telpon terkonsentrasi di Jakarta (40%). Penyebab utama ketertinggalan pemakaian telepon di Indonesia adalah lambatnya pembangunan jaringan telpon. Oleh karena itu, pada repelita ke-5, PERUMTEL mencanangkan perluasan jaringan telpon dan perbaikan mutu pelayanan sebagai target utama untuk mengejar ketertinggalan Indonesia.
Dalam hal ini, perbaikan sistem pemeliharaan jaringan telpon termasuk dalam prioritas utama, dan ODA telah membantu pembangunan pusat pelayanan dan pemeliharaan (jaringan telpon).

Kebijakan pemerintah mengenai pengembangan wilayah pada tahun 1989 adalah meneruskan pengembangan ekonomi dan sosial wilayah-wilayah di seputar Jakarta dengan memanfaatkan kemajuan ekonomi Jakarta. Dengan demikian maka diprediksikan bahwa permintaan akan jaringan telekomunikasi di wilayah-wilayah seputar Jakarta (kira-kira 30 km dari pusat kota Jakarta) akan meningkat dengan tajam. Tetapi karena elemen-elemen pengembangan jalur transmisi di Jakarta dan wilayah-wilayah sekitarnya nampaknya tidak dipertimbangkan dengan baik, maka ODA membantu membenahi kondisi (fasilitas) telekomunikasi dan meningkatkan prosentase pemakaian telepon. Kesemua aktivitas (ODA) tersebut bertujuan untuk membantu meningkatkan aktivitas ekonomi antara daerah D.K.I Jakarta dan wilayah-wilayah sekitarnya.

Selain itu, dengan tujuan untuk meningkatkan penanaman investasi di bidang industri di Surabaya yang merupakan kota terbesar ke dua di Indonesia, ODA juga memprioritaskan penyempurnaan perluasan infrastruktur di wilayah 6 kabupaten dan 1 kota di sekitar Surabaya. Pada saat itu, sedang dibangun wilayah perdagangan dan industri yang berpusat di Surabaya.

Pada saat itu, jaringan telekomunikasi yang menjadi salah satu faktor utama infrastrukstur di Surabaya (dan wilayah-wilayah sekitarnya) tertinggal jauh dengan Jakarta, sehingga hal ini menjadi penyebab keterlambatan rencana pengembangan wilayah industri dan perdagangan tersebut. Kondisi jaringan telekomunikasi yang tidak baik tersebut juga menjadi salah satu penyebab enggannya perusahaan-perusahaan untuk menanamkan investasi di Surabaya.

Untuk mengurangi ketertinggalan fasilitas dan jaringan telekomunikasi Surabaya dari Jakarta, ODA juga telah melaksanakan bantuan-bantuan dalam menyempurnakan dan memperluas jaringan telekomunikasi sebagai cara untuk mengembangkan perekonomian Surabaya dan wilayah-wilayah sekitarnya.




Tampak luar bangunan pusat
pelayanan dan pemeliharaan
jaringan telpon yang dibangun
dengan bantuan Jepang
Tampak luar bangunan
pusat pelayanan dan pemeliharaan
jaringan telpon


Pengadaan switcher dengan bantuan Jepang    (Jakarta)
 Pusat monitor jalur
transmisi (Jakarta)

Sistem transmisi optik yang dibangun
dengan bantuan Jepang (Surabaya)
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar